Yes I Do

Di Indonesia, setidaknya 1 dari 4 anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun. Sekalipun tingkat pendidikan anak perempuan dan laki-laki terus meningkat, namun praktik perkawinan anak masih mudah ditemukan di perdesaan dan perkotaan.

Fenomena ini berakar pada ketimpangan gender, kemiskinan, minimnya pendidikan seksual dan reproduksi, serta kurangnya akses pada layanan kesehatan seksual dan reproduksi bagi remaja.  Ada sejumlah faktor lain yang mendorong bertahannya praktik perkawinan anak, seperti kemiskinan, agama, adat, dan seks pranikah. Akibatnya, kehamilan usia dini pun tidak terhindarkan yang sesungguhnya membawa akibat jangka panjang bagi kesehatan anak perempuan maupun bayi yang dilahirkannya. Selain itu, praktik berbahaya bagi organ reproduksi perempuan pun masih berlangsung yang berkaitan dengan agama, tradisi, seksualitas dan kesiapan menikah.

Maka, pada tahun 2016, Rutgers WPF Indonesia, Plan International Indonesia dan Aliansi Remaja Independen meluncurkan aliansi Yes I Do. Aliansi yang berkomitmen bersama untuk mencegah perkawinan anak, kehamilan remaja dan praktik berbahaya bagi organ reproduksi perempuan. Yes I Do menerapkan program pencegahan berbasis komunitas di Kabupaten Rembang, Sukabumi dan Lombok Barat di mana kasus-kasus tersebut cukup tinggi.

Tujuan dari Yes I Do adalah anak perempuan yang berusia di bawah 18 tahun berdaya dalam bernegosiasi dan memutuskan kapan dan dengan siapa akan menikah dan memiliki anak, serta terlindungi dari praktik berbahaya bagi organ reproduksinya.

Cara kami mencapai tujuan tersebut:

  • mobilisasi sosial di desa;
  • memberdayakan remaja untuk menyuarakan haknya;
  • meningkatkan akses informasi dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi ramah remaja;
  • memberdayakan ekonomi remaja melalui penguatan soft skill dan hard skill serta jaminan pendidikan 12 tahun; dan
  • advokasi berbasis bukti untuk mendorong kebijakan dan program yang berpihak pada kepentingan anak perempuan.

Yang kami kerjakan sejauh ini:

  • membentuk Kelompok Perlindungan Anak Desa di dua belas desa;
  • membentuk dua belas komunitas yang terdiri dari empat kelompok (remaja perempuan, remaja laki-laki, orang tua perempuan, dan orang tua laki-laki) di dua belas desa di Kabupaten Rembang, Sukabumi, dan Lombok Barat;
  • berdiskusi dengan 416  orang yang terdiri dari kelompok remaja perempuan, remaja laki-laki, orang tua perempuan, orang tua laki-laki;
  • menggapai sekitar sepuluh ribu audiens melalui siaran radio Elmitra 95 di Sukabumi.

 

Mitra Kerja
PKBI Jawa Barat (Sukabumi), PKBI Jawa Tengah (Rembang), PKBI Nusa Tenggara Barat (Lombok Barat).

Jaringan Kerja
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Nasional, BKKBN, Agensi UN (UNFPA dan Unicef), Pusat Kesejahteraan Keluarga (PKK), Kementerian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, Biro Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Departemen Agama, Dinas Kesehatan, BKKBD, Bappeda, Dinas ketenagakerjaan dan transmigrasi, Kantor Urusan Agama, Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4), Pengadilan Agama.