Prevention+

Prevention+

Tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan seperti fenomena gunung es. Data yang dirilis Komnas Perempuan pada tahun 2016 menunjukkan, kasus kekerasan terhadap perempuan yang terlaporkan sebanyak 321.752 kasus.

Data di atas meningkat dari data tahun 2015 sebanyak 293.220 kasus. Jenis kekerasan yang menempati urutan tertinggi adalah kekerasan di ranah personal, khususnya kekerasan terhadap istri. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) pada tahun 2006 menunjukkan bahwa pada tahun tersebut sebanyak 2,27 juta perempuan di Indonesia telah mengalami kekerasan domestik.

Meskipun begitu, jumlah ini masih jauh dari kondisi riil yang terjadi karena di lapangan. Masih banyak kasus yang tidak terlaporkan. Penyebabnya bermacam-macam, di antaranya stigma di masyarakat yang menganggap kekerasan dalam rumah tangga adalah tabu dan aib bagi keluarga.

Banyak upaya yang telah dilakukan demi mencegah kekerasan terhadap perempuan, tetapi kuatnya budaya patriarki yang terwujud dalam norma sosial membuat kasus kekerasan kian meningkat.Hal ini diperparah dengan minimnya keterlibatan laki-laki dalam upaya-upaya tersebut. Selain itu, program-program yang dikembangkan pun masih berfokus pada pemberdayaan perempuan dan belum cukup menyasar akar persoalannya, yaitu norma dan relasi gender laki-laki dan perempuan.

Program Prevention+ bertujuan untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan serta meningkatkan partisipasi ekonomi perempuan dengan pendekatan pelibatan laki-laki sebagai agen perubahan dan mempromosikan nilai maskulinitas yang positif berdasarkan nilai kesetaraan dan nonkekerasan.

Program ini berjalan di Yogyakarta dan Lampung untuk tingkat lokal dan Jakarta untuk advokasi di tingkat nasional. Untuk mencapai tujuannya, RutgersWPF Indonesia melakukan intervensi program di beberapa level, yaitu: individu, komunitas, institusi, dan pemerintah.

 

Cara kami mencapai tujuan tersebut:

  • diskusi komunitas reguler untuk empat kelompok (laki-laki dewasa, perempuan dewasa, laki-laki remaja, dan perempuan remaja);
  • kampanye; dan
  • lobi/advokasi.

 

Yang kami kerjakan sejauh ini:

  • melatih 235 fasilitator komunitas, melibatkan 1316 laki-laki dan perempuan dalam diskusi dan konseling di komunitas. Secara keseluruhan, 238.808 orang sudah terjangkau dalam kampanye dan advokasi yang dilakukan oleh mitra-mitra PREVENTION+ sampai Mei 2017;
  • Yayasan Pulih bersama mitra lainnya sudah mengembangkan modul diskusi komunitas dan diterapkan pada tahun 2017;
  • Rahima menguatkan 20 tokoh agama dan 18 kepala Kantor Urusan Agama (KUA) untuk memasukan unsur pencegahan kekerasan berbasis gender dalam konsultasi pra-pernikahan (kursus calon pengantin).
 
 

Mitra Kerja
Rifka Annisa Women Crisis Center, Lembaga Advokasi Perempuan Damar, Yayasan Pulih, Rahima.

Jaringan Kerja
Prevention+ berjejaring dengan National Reference Group (NRG), sebuah platform advokasi kebijakan di tingkat nasional untuk berkoordinasi terkait isu pelibatan laki-laki untuk kesetaraan gender dalam kesehatan seksual dan reproduksi serta pencegahan kekerasan berbasis gender. Anggotanya antara lain Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Agama, Kepolisian, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), P2TP2A DKI Jakarta, RS Bhayangkara, Aliansi Laki-Laki Baru, Puska FKM UI (Universitas Indonesia), Puska Gender dan Seksualitas UI, Pusat Studi Kajian Gender UI, UN Agencies, dan sejumlah organisasi perempuan.