Get Up Speak Out Indonesia Rutgers WPF

Get Up Speak Out

Selama ini remaja tidak mendapatkan informasi soal hak dan kesehatan seksualitas dan reproduksi dan sulit mengakses layanan kesehatan reproduksi.

Sekitar 33,3% remaja perempuan dan 34,5% remaja laki-laki di Indonesia telah berpacaran sejak di bawah usia 15 tahun. Dari data yang sama, sekitar 19,1% remaja laki-laki dan 2,5% remaja perempuan mengaku telah melakukan hubungan seksual (Survei Kementerian Kesehatan, 2012). Data ini menunjukkan bahwa remaja juga berhak dilibatkan dalam pemenuhan hak-hak seksual dan kesehatan reproduksi. Selama ini remaja tidak mendapatkan informasi soal hak dan kesehatan seksualitas dan reproduksi dan sulit mengakses layanan kesehatan reproduksi. Sehingga remaja tidak memiliki kapasitas dan kendali dalam menentukan pilihan yang berhubungan dengan kehidupan seksual yang sehat. Akibatnya adalah kehamilan tidak diinginkan, aborsi tidak aman, sampai infeksi menular seksual di kalangan remaja.

Get Up Speak Out berusaha mengisi kurangnya informasi dan layanan seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi remaja.

GUSO bertujuan untuk meningkatkan akses remaja terhadap pendidikan dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi. Tak hanya itu, GUSO juga ingin memberi ruang bagi remaja untuk bersuara dan mengklaim haknya akan kesehatan seksual dan reproduksi. Kami percaya seluruh remaja, termasuk yang terpinggirkan dan rentan, memiliki kendali untuk memilih dan mempraktikan haknya tanpa stigma dan diskriminasi.

Cara kami mencapai tujuan tersebut:

  • menguatkan aliansi;
  • mendukung remaja untuk berbicara dan memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan akses pendidikan seksualitas yang komprehensif dan layanan kespro yang ramah;
  • memperkuat penerapan pendidikan seksualitas yang komprehensif dan memadukannya dalam pendidikan formal dan nonformal;
  • memperkuat layanan kesehatan reproduksi dan seksual yang ramah bagi remaja dan dipadukan dalam pelayanan kesehatan peduli remaja yang ada di puskesmas;
  • meningkatkan sensitivitas gender yang ramah remaja dalam konteks sosial-budaya, politik dan hukum;
  • mengembangkan panduan pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi untuk orang tua dan guru bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak;
  • mengembangkan panduan pendidikan seksulitas dan reproduksi untuk remaja difabel dan meningkatkan penerapannya di sekolah bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional.

Yang kami kerjakan sejauh ini:

  • bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan panduan penilaian mandiri layanan kesehatan peduli remaja (PKPR);
  • memperkuat layanan kesehatan reproduksi dan seksual yang ramah bagi remaja ragam identitas terhadap sekitar 15 puskesmas;
  • menerapkan pendidikan seksualitas yang komprehensif pada sekitar 15 sekolah menengah pertama (SMP); dan
  • menjangkau 96.702 remaja melalui SobatASK.net yang berisi informasi tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas.

 

Mitra Kerja
PKBI Jawa Tengah, Yayasan Pelita Ilmu, Ardhanary Institute, PKBI DKI, PKBI Bali, PKBI Lampung.