Prevention+

Pertemuan Antarnegara Prevention+ di Yogyakarta

Pada tanggal 16 Oktober 2017, mitra pelaksana program Prevention+ dari berbagai negara datang ke Yogyakarta dalam pertemuan antarmitra. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk melakukan linking & learning, membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi masing-masing lembaga, serta mengoptimalisasi rencana kegiatan di tahun berikutnya.

Kegiatan hari pertama diawali dengan perkenalan, sambutan dari Direktur Rutgers International, serta presentasi dari masing-masing mitra mengenai kegiatan yang telah mereka lakukan selama setahun belakangan. Tidak lupa juga para peserta membagikan harapannya mengenai pertemuan antarmitra yang akan mereka lewati selama beberapa hari ke depan.

Hari kedua diawali dengan perjalanan dari Yogyakarta menuju Gunung Kidul. Setelah disuguhkan dengan penampilan Hadroh dari para perempuan dan penampilan Jathilan dari anak-anak Gunung Kidul, peserta berkesempatan untuk mendapatkan informasi mengenai kegiatan Prevention+, serta capaian dan juga hambatannya. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan warga Gunung Kidul saat bersama-sama menyantap makan siang. Meski hujan, semangat peserta tidak luntur untuk mengunjungi area intervensi, yaitu Desa Jetis. Di Desa Jetis, para peserta juga berinteraksi langsung dengan peserta diskusi komunitas dan bersama-sama membahas perubahan yang dirasakan melalui program Prevention+.

Pada hari ketiga, peserta kembali berkegiatan di Yogyakarta. Sesi hari itu diawali dengan kegiatan refleksi singkat mengenai kegiatan kunjungan lapangan sehari sebelumnya. Banyak inspirasi dan pemahaman yang mereka dapatkan seperti semangat dari setiap pihak untuk menghentikan KJB, adanya rasa kepemilikan bersama dari setiap pencapaian, dan adanya kerja yang harmonis dari tiap pihak. Para peserta kemudian mendiskusikan mengenai hambatan yang ditemui Rifka Annisa sebagai mitra pelaksana program Prevention+ di Gunung Kidul, salah satunya adalah radikalisme dan fundamentalisme dari masyarakat. Para peserta merefleksikan keadaan tersebut dengan keadaan negaranya dan mencoba memberikan solusi yang dapat dipraktikkan bersama. Sesi hari itu pun kemudian berlanjut dengan membahas konseling wajib untuk laki-laki pelaku yang saat ini sedang menjadi isu advokasi di Indonesia. Para peserta bertukar pendapat dan pengalaman mengenai program konseling wajib bagi laki-laki pelaku di negaranya masing-masing.

Esoknya, panitia yang telah melakukan rapat terpisah sehari sebelumnya membagikan hasil rapatnya kepada seluruh peserta. Ton Coenen, Tim Shand, dan Dean Peacock menjelaskan mengenai keadaan program saat ini serta rencana untuk di waktu yang akan datang. Melalui forum bersama, mitra dari semua negara pelaksana Prevention+ mendapatkan arahan yang jelas mengenai arah dan tujuan program ke depannya. Setelah itu, sesi dilanjutkan dengan membahas mengenai penggunaan bukti dalam perancangan proposal dan kegiatan, serta kemampuan yang dibutuhkan dalam memperkuat tim dalam menghadapi tantangan.

Pada hari terakhir, peserta diajak kembali untuk melihat penggunaan bukti yang telah dilakukan selama ini dalam kegiatan advokasi, komunikasi, dan pembelajaran. Setelah itu, peserta membahas mengenai kesempatan strategis di waktu yang akan datang seperti adanya konferensi, kegiatan advokasi, dan lain-lain. Setelah makan siang, peserta diajak untuk melihat kembali kepada seluruh tim program Prevention+ di negaranya masing-masing dan mencari kebutuhan penguatan kapasitas untuk setiap tim. Rangkaian kegiatan pertemuan antarmitra ini diakhiri dengan evaluasi dan penyampaian impresi serta apresiasi sesama peserta.

Responses