Mengembangkan Pendidikan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja Tunagrahita

Belum ada materi pendidikan kesehatan reproduksi di Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan remaja tuna grahita. Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Pelayanan Khusus (PKLK), Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Rutgers WPF Indonesia untuk mengembangkan modul pendidikan Kesehatan Reproduksi bagi remaja tuna grahita. Bersama Rutgers WPF Indonesia, PKLK telah mengembangkan dan mengimplementasikan pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja tuna netra dan tuna rungu di 17 provinsi sejak 2006.

Jakarta, 28 Juli 2017-  Rutgers WPF Indonesia merupakan organisasi pusat keahlian dalam bidang kesehatan reproduksi dan pencegahan kekerasan berbasis gender. Pada 2016, Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Pelayanan Khusus (PKLK), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, mengajak Rutgers WPF Indonesia untuk mengembangkan Pendidikan Kesehatan Reproduksi (PKR) bagi remaja Tuna Grahita. Kerja sama ini dilandasi oleh kebutuhan para guru di lapangan yang bingung dalam menyikapi perilaku para remaja Tuna Grahita yang didorong oleh kematangan sistem reproduksi mereka. Pengembangan modul ini merupakan terobosan dalam bidang PKR di Indonesia. Untuk meresmikan kolaborasi antara PKLK Kemendikbud dengan Rutgers WPF Indonesia, Ibu Sri Renani Pantjastuti,  Direktur PKLK Kemendikbud melakukan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama pada kegiatan Lomba Ketrampilan Siswa Tingkat Nasional dan Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia 2017.

Sejak 2006, Rutgers WPF Indonesia telah bekerja sama dengan PKLK, Kemendikbud untuk pengembangan Pendidikan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja Tuna Netra (Langkah Pastiku -- Modul untuk Guru dan Buku Kerja Siswa menggunakan huruf Braille) dan Tuna Rungu (Maju – Modul untuk Guru dan Buku Kerja Siswa menggunakan audio serta kamus kesehatan reproduksi dengan bahasa isyarat). Selama 2006 – 2010, inisiasi penerapan (piloting)  modul Langkah Pastiku dan Maju dilakukan di 3 provinsi dan berkembang hingga 43 sekolah. Sejumlah 102 guru telah dilatih dan mereka memberikan pengetahuan kesehatan reproduksi kepada 650 siswa. Pada 2012, PKLK Kemendikbud telah memperluas implementasi modul ke 28 sekolah di 17 provinsi.

Country Representative Rutgers WPF Indonesia, Lany Harijanti, mengungkapkan “Kerja sama ini sejalan dengan misi kami untuk memastikan semua remaja harus mendapat akses yang sama terhadap pendidikan dan layanan kesehatan reproduksi tanpa memandang latar belakang dan identitas mereka.”

Proses pengembangan Pendidikan Kesehatan Reproduksi bagi remaja tuna grahita ini akan dilakukan hingga akhir tahun 2018. Fokus pada 2017 adalah pengembangan modul melalui proses: (a) pembentukan tim penasehat; (b) pelaksanaan assessment di tiga kota (Jakarta, Denpasar, dan Semarang) ; (c) penulisan modul. Sementara fokus pada tahun 2018 adalah: (a) pelatihan guru; (b) uji coba pelaksanaan di tiga sekolah; serta (c) evaluasi pelaksanaan/ dampak. Kami berharap PKLK Kemendikbud mengambil upaya strategis untuk memperluas praktek pendidikan kesehatan reproduksi bagi tuna grahita ke seluruh Indonesia sebagai salah satu program kerja PKLK Kemendikbud.

Responses