seminar men engage yogyakarta

Mencegah Kekerasan Berbasis Gender dan Fundamentalisme dengan Mempromosikan Maskulinitas Positif

Seminar yang membahas fundamentalisme agama yang menjadi tantangan bagi upaya penghapusan kekerasan berbasis gender, diperlukannya pendekatan transformasi gender untuk mengubah norma dan nilai-nilai maskulinitas yang memicu tindakan kekerasan, serta melibatkan laki-laki untuk mencegah dan mengurangi kekerasan berbasis gender terbukti memberikan dampak positif.

Rutgers WPF Indonesia berkolaborasi dengan MenEngage Alliance dan Aliansi Laki-laki baru, menyelenggarakan seminar bertema “Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Fundamentalisme dengan Mempromosikan Maskulinitas Positif” di Hotel Santika Premiere, Yogyakarta pada 21 Oktober 2017 lalu. Sejak 2007, Rutgers WPF Indonesia telah bekerja sama dengan sepuluh mitra dari tujuh provinsi di Indonesia untuk mendorong pelibatan laki-laki dalam menghapus kekerasan terhadap perempuan. MenEngage Alliance merupakan jaringan internasional yang terdiri lebih dari 700 organisasi masyarakat sipil yang bekerja di 68 negara dengan perempuan dan laki-laki untuk mengurangi kekerasan berbasis gender dan memperjuangkan keseteraan gender. Sedangkan Aliansi Laki-Laki Baru adalah gerakan yang bertujuan untuk mengajak laki-laki di Indonesia untuk terlibat dalam upaya penghentian kekerasan terhadap perempuan. Ketiganya mempromosikan nilai-nilai kesetaraan dan maskulinitas yang positif, laki-laki bisa menjadi bagian dari solusi.

Berdasarkan riset terbaru Badan Pusat Statistik di 2016, satu dari tiga perempuan berusia 15-64 tahun di Indonesia mengalami kekerasan oleh pasangan dan selain pasangan selama hidup mereka. Jika dilihat dari studi Pengalaman Laki-Laki Terkait Kekerasan Terhadap Perempuan yang dilakukan di Jayapura, Jakarta, dan Purwerejo pada 2015, motivasi paling besar untuk melakukan pemerkosaan (76% di Jayapura, 75% di Jakarta, 57% di Purworejo) adalah karena responden merasa berhak atas tubuh perempuan dan dapat melakukan hal tersebut. Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa lingkungan yang penuh kekerasan serta penanaman nilai-nilai maskulin yang mendorong kekerasan menyulut perilaku kekerasan. Berbagai upaya untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan dan mewujudkan kesetaraan gender telah dilakukan oleh berbagai pihak. Namun meningkatnya fundamentalisme agama di tengah masyarakat menjadi tantangan bagi usaha tersebut, melalui peraturan-peraturan yang diskriminatif dan tafsir agama yang membatasi ruang gerak perempuan, terutama terkait hak kesehatan seksual dan reproduksi perempuan.

Fundamentalisme agama juga dinilai berpengaruh dalam melanggengkan nilai-nilai maskulinitas yang memicu kekerasan terhadap perempuan. Sejumlah kajian terkait peraturan-peraturan diskriminatif mengindikasikan bahwa kebijakan yang didasari moralitas atas nama agama seringkali mengabaikan hak-hak, dan mendorong kekerasan terhadap perempuan. Fundamentalisme menekankan doktrin yang menganggap bahwa laki-laki adalah pemimpin keluarga sehingga membatasi peran perempuan baik di ranah domestik, keagamaan maupun di masyarakat. Perempuan diharuskan mengikuti perintah atau keinginan suaminya atau laki-laki dalam keluarga. Dalam berbagai hal, seperti kesehatan reproduksi dan relasi rumah tangga, semua dianggap sebagai urusan dan kuasa laki-laki sehingga merugikan posisi kaum perempuan.

Rutgers WPF Indonesia bersama mitra lokal seperti Rifka Annisa (Yogyakarta), Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR (Lampung), Yayasan Pulih (Jakarta) dan Rahima (Jakarta) bekerja melalui pendekatan berbasis komunitas dengan melibatkan kelompok ayah, ibu, remaja laki-laki dan perempuan untuk mengubah nilai-nilai yang merugikan bagi terwujudnya keadilan dan kesetaraan gender. Melalui program Prevention Plus, para mitra berupaya untuk membuka dialog dengan tokoh-tokoh agama di tingkat desa dan di tingkat nasional untuk mempromosikan tafsir agama yang mendukung kesetaraan dan keadilan gender. Para tokoh agama juga diharapkan berperan aktif dalam pencegahan kekerasan terhadap perempuan di wilayahnya. Upaya pencegahan kekerasan berbasis gender perlu menerapkan pendekatan transformasi gender dalam setiap tahapannya, agar dapat membongkar nilai-nilai dan norma sosial yang menghambat kesetaraan dan keadilan gender. Berdasarkan dokumen masukan MenEngage Alliance untuk Human Rights Council United Nations, dari berbagai pembelajaran praktik-praktik dan studi terkait keterlibatan laki-laki, langkah tersebut terbukti berdampak positif dalam upaya mewujudkan keadilan gender dan mencegah kekerasan.

Direktur Rutgers WPF Indonesia, Lany Harijanti, mengungkapkan, “Laki-laki perlu dilibatkan sebagai mitra dalam menghapus kekerasan. Pelibatan tersebut dilakukan di berbagai level masyarakat, dari tingkat individu, komunitas, hingga institusi dan sistem pemerintah, tidak lupa mengikutsertakan tokoh masyarakat dan agama.”

Seminar ini membahas strategi untuk mengatasi pengaruh fundamentalisme agama terhadap usaha pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan mewujudkan keadilan gender. Selain itu, didiskusikan juga tentang bagaimana melibatan laki-laki dalam upaya pencegahan kekerasan dan menghapus fundamentalisme agama.

Responses