Lokakarya Modul Pendidikan Kespro Tunagrahita

Pada Senin, 13 November 2017 lalu, diadakan Audiensi Penyusunan Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja dengan Disabilitas Intelektual melibatkan Kemendikbud, Kemenkes, Kemenko PMK, dan Dinas Pendidikan Jakarta, bersama dengan guru-guru dan pakar.

Menindaklanjuti kerjasama Rutgers WPF Indonesia dengan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Kementerian Pendidikan Nasional terkait pengembangan modul pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas komprehensif bagi remaja tunagrahita, maka telah dilakukan penilaian kebutuhan dan analisis situasi terkait kesehatan reproduksi dan seksual remaja tuna grahita. Data yang diperoleh dalam proses tersebut menjadi dasar penyusunan modul pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas (PKRS) yang komprehensif bagi remaja tunagrahita. Penilaian kebutuhan dan analisis tersebut dilakukan pada masing-masing dua sekolah di Semarang, Bali dan Jakarta.

Kajian resiko kasus kekerasan pada penyandang disabilitas, oleh tim peneliti John Moores Universitas Liverpool dan WHO, di 17 negara berpendapatan rendah menunjukkan bahwa anakanak penyandang disabilitas memiliki kecenderungan 3,6 kali lebih besar untuk mengalami kekerasan fisik dan 2,9 kali lebih besar untuk mengalami kekerasan seksual1 . Secara khusus, anak-anak dengan disabilitas intelektual/tunagrahita 4,6 kali lebih beresiko menjadi korban kekerasan seksual dibandingkan teman sebayanya tanpa disabilitas. Demikian pula, tinjauan sistematis dan meta analisis lainnya menunjukkan bahwa orang-orang dengan disabilitas memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk menjadi korban kekerasan, terutama kekerasan seksual, dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memiliki disabilitas2.

Acara ini dengan cermat melibatkan guru-guru sekolah luar biasa (SLB) dan sekolah inklusif, Persatuan Orangtua Anak dengan Down Syndrome (POTADS), Sukacita Foundation, Young Voice (Komunitas pemuda penyandang disabilitas), dan para pakar (psikolog, psikiatri, ahli teknologi pendidikan luar biasa). Setelah pemaparan hasil penilaian kebutuhan (needs assessment), diskusi berjalan dengan seru, semua pihak antusias terhadap modul pendidikan kespro untuk remaja dengan disabilitas intelektual karena kebutuhannya yang tinggi. Remaja dengan disabilitas intelektual memiliki perkembangan reproduksi dan seksual yang sama dengan remaja pada umumnya, hanya saja mereka memiliki keterbatasan dalam mengeksekusi perilaku adaptif. Hal ini melipatkaligandakan kerentanan remaja dengan disabilitas intelektual terhadap kekerasan seksual, baik menjadi korban ataupun pelaku (karena defisit dalam perilaku adaptif). Berbagai masukan yang berharga telah diberikan, sekarang mari kita berjalan bersama merealisasikan modul ini.

Responses