Kisah Transformasi

Kisah Transformasi yang Menjadi Inspirasi

Bagi para laki-laki, mengubah nilai-nilai gender tradisional yang berlaku di masyarakat dan sudah menjadi bagian dari keyakinan juga bukan hal yang mudah. Jika perubahan diharapkan dimulai dari diri sendiri, lalu ke tingkat keluarga, baru kemudian meluas ke tengah masyarakat, seorang laki-laki perlu menjalani proses peralihan secara personal baru kemudian menerapkan perilaku yang mendukung kesetaraan di keluarga serta lingkungan sekitarnya. Proses transformasi inilah yang didorong oleh program Prevention+ agar laki-laki bisa mengubah norma dan nilai-nilai tradisional yang meligitimasi kekerasan.

Perubahan pandangan dan perilaku laki-laki ke arah yang mendukung keadilan gender yang dipraktikan dalam kesehariannya bersama keluarga. Perubahan-perubahan tersebut bisa tercermin misalnya melalui pembagian beban kerja domestik yang lebih setara, sikap saling menghormati dan mendukung antara suami-istri. Perubahan ini, tentu saja berlangsung dengan penuh tantangan, baik yang datang dari dalam keluarga maupun lingkungan sekitar.

Proses transformasi laki-laki inilah yang akan disampaikan melalui pesan kampanye program Prevention+ di Indonesia. Rutgers WPF Indonesia merupakan organisasi yang mengimplementasikan program Prevention+ di Indonesia, bersama dengan beberapa mitra di tingkat lokal dan nasional. Prevention+ bertujuan melibatkan laki-laki muda dan dewasa untuk menghentikan kekerasan berbasis gender dan mengubah norma kolektif yang melegitimasi kekerasan dengan menggunakan pendekatan transformatif gender yang menyeluruh. Program ini juga dilaksanakan di Indonesia, Rwanda, Uganda, Pakistan dan Timur Tengah (Palestina, Mesir, Moroko dan Lebanon). Mitra yang terlibat dalam Prevention+ di Indonesia adalah Women Crisis Centre (WCC) Rifka Annisa Yogyakarta, WCC Damar Lampung, Yayasan Pulih Jakarta dan Rahima. 

Tahun 2017 ini Rutgers WPF ingin bekerja sama dengan Kawan-Kawan Film Production, sebuah rumah produksi berbasis komunitas, untuk memproduksi film dokumenter berdurasi pendek yang menggambarkan perjalanan transformasi seorang laki-laki dalam keluarganya. Nama rumah produksi  Kawan-Kawan Film dikenal lewat film layar lebar tentang Wiji Thukul berjudul “Istirahatlah Kata-Kata”

Setelah sebelumnya telah berpengalaman bekerja sama dengan berbagai organisasi nonpemerintah. Bersama tim Kawan-Kawan Film, Rutgers WPF Indonesia mengambil kisah seorang laki-laki bernama Sulaiman yang tinggal di desa Tegalombo, kecamatan Way Bungur di Provinsi Lampung. Proses riset dan pengambilan gambar film dokumenter ini berlangsung sejak akhir Maret hingga April 2017.

Pak Sulaiman adalah seorang ayah dengan tiga anak dan beristrikan Ibu Indah Lestari, seorang kepala sekolah taman kanak-kanak Aisyah sekaligus penggiat hak-hak perempuan di organisasi Perempuan Timur. Sehari-hari, Pak Sulaiman berprofesi sebagai pedagang namun di tengah kesibukannya, beliau tidak sungkan untuk merawat anak bungsunya yang berumur tiga tahun. Walaupun dibesarkan dengan nilai-nilai dan peran gender tradisional, keseharian Pak Sulaiman justru mencerminkan perilaku yang transformatif. Pak Sulaiman dikenal oleh warga sekitar sebagai suami yang mendukung kemajuan dan aktifitas istrinya di luar rumah. Beliau juga tidak keberatan untuk berbagi tugas domestik dengan istrinya. Sikap Pak Sulaiman tidak muncul dengan sendirinya, menurut pengakuan Ibu Indah, Pak Sulaiman awalnya sedikit keberatan dengan kesibukannya di luar tetapi akhirnya paham maksud dan tujuannya. Sekarang, Pak Sulaiman mendukung istrinya dalam melakukan pendampingan bagi kelompok perempuan di desanya dan bahkan di tingkat Kabupaten Lampung Timur.

Kisah keluarga Pak Sulaiman dan Ibu Indah yang bekerja sama untuk kesetaraan ini diharapkan dapat menginspirasi kelompok laki-laki muda dan dewasa untuk mendukung nilai-nilai kesetaraan dan menghentikan kekerasan berbasis gender. Film dokumenter Prevention+ akan diluncurkan pada bulan Mei dan nantinya bisa disaksikan online melalui situs dan channel Youtube Laki-laki peduli.

Responses