Comprehensive Sexuality Education

Pendidikan Seksualitas Komprehensif

Banyak remaja yang tidak mengetahui tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas. Padahal remaja juga menghadapi lingkungan yang penuh risiko. Mulai dari kehamilan tidak diinginkan, aborsi tidak aman, sampai infeksi menular seksual. Dalam rangka turut mengatasi persoalan ini, Rutgers WPF menyiapkan serangkaian program yang saling terkait dalam upaya memberikan pendidikan kesehatan dan seksualitas bagi remaja. Berkolaborasi dengan guru-guru SMP dan SMA untuk bersama-sama membekali remaja agar dapat menghindari risiko di usia dini dan menjadi agen perubahan bagi teman sebayanya.

Pendidikan Seksualitas Komprehensif Bagi Anak dan Remaja

Solusi kami untuk berbagai tantangan dan permasalahan remaja adalah dengan memberdayakan melalui pendidikan seksualitas komprehensif. Seksualitas bukan melulu tentang seks, namun juga terkait dengan kesehatan, merasa nyaman dengan tubuh sendiri, hingga menghargai hak orang lain. Oleh sebab itu, komprehensif artinya menyangkut berbagai aspek mengenai manusia dan dilakukan dengan berbagai pendekatan kreatif yang disesuaikan dengan kebutuhan remaja sesuai tingkatan usia. Oleh sebab itu, penting untuk mengemas pengetahuan tersebut agar menarik perhatian remaja, disukai, dan pada akhirnya mampu mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku menjadi berorientasi kepada kesehatan dan menghargai orang lain.

Mengapa remaja perlu mendapatkan pendidikan seksualitas komprehensif?

Adanya kesenjangan pengetahuan yang dimiliki remaja tentang berbagai bahaya-bahaya yang dapat merusak masa depan tercermin dari angka statistik. Di Indonesia saja, menurut laporan Badan Narkotika Nasional, lebih dari 800 ribu remaja menjadi pecandu narkoba. Jumlah ini diyakini akan lebih besar saat ini karena masyarakat menyambut baik kebijakan pemerintah yang membuka diri terhadap pelaporan oleh masyarakat tentang identitas para pecandu narkoba tanpa memberi risiko penangkapan kepada si pecandu melainkan merekomendasikan upaya rehabilitasi yang bersangkutan. Demikian halnya dengan kesenjangan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi; sekitar 50% orang yang hidup dengan HIV (virus yang menyerang kekebalan tubuh) adalah remaja dan dewasa muda (berusia 15 sampai 29 tahun), kehamilan yang tidak dikehendaki terjadi juga pada remaja, demikian juga tindakan-tindakan pengguguran kandungan (aborsi) tidak aman yang bisa memicu kematian. Hal ini menjadi suatu persoalan yang mendesak bagi Rutgers WPF Indonesia dan membutuhkan dedikasi yang kuat dalam mengatasinya; terlebih ketika menyadari jumlah remaja di Indonesia adalah berkisar 25% dari jumlah penduduk artinya mendekati angka 50 juta orang. Bahaya yang mengancam generasi muda adalah bahaya yang mengancam masa depan bangsa!

Melibatkan pendidik di sekolah

Rutgers WPF melihat guru serta pembina-pembina organisasi remaja sebagai pintu masuk dan jalan untuk menjangkau para remaja. Selama lebih dari 10 tahun, Rutgers WPF mengembangkan program pengembangan kapasitas guru Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan para pembina organisasi remaja. Pada tahun 2014, 230 orang guru telah berpartisipasi dalam program yang dilaksanakan di provinsi Jambi, DKI Jakarta, Lampung dan DI Yogyakarta; 337 orang pendidik dari keempat provinsi tersebut juga mengikuti program pengembangan kapasitas di bidang kesehatan reproduksi dan seksualitas yang khususnya berkaitan dengan remaja. Program pendidikan kesehatan reproduksi Rutgers WPF selama 2014 telah melibatkan 14.219 orang remaja dari sekolah dan komunitas organisasi remaja. Program pengembangan kapasitas guru tersebut antara lain menggunakan modul pelatihan SETARA (Semangat Dunia Remaja) yang disiapkan bagi guru dan pendidik Sekolah Menengah Pertama; modul pendidikan kesehatan dan modul pelatihan DAKU (Dunia Remajaku Seru) bagi guru dan pendidik Sekolah Menengah Atas.

Jika sementara guru-guru dan pendidik telah melibatkan diri dalam program pendidikan seksual Rutgers WPF, bagaimana dengan guru-guru yang lain? Kami bersama mitra bermitra bersama pemerintah agar program pendidikan seksualitas masuk dalam kebijakan pemerintah terkait panduan pendidikan sekolah (kurikulum), sehingga lebih banyak lagi (atau semua) remaja yang memiliki pengetahuan dan dan perilaku yang sehat dan menghargai orang lain.

Tak hanya mendidik, namun juga menciptakan agent4change

Rutgers WPF yakin bahwa remaja mampu menjadi agent4change (agent for change - agen untuk perubahan), yang artinya: Remaja yang telah terlatih dan paham serta memiliki dedikasi, mendapat kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan semangat kepada sesama remaja yang belum sempat terlibat program.

Suatu pendekatan yang sangat menarik dilakukan untuk memikat partisipasi remaja dalam program pendidikan seksual, yaitu dance4life. Remaja diajak untuk belajar menari tarian kreatif oleh pelatih-pelatih tari yang mahir untuk mendapatkan kebersamaan dan kesepakatan untuk menghindari bahaya-bahaya yang ada di sekeliling mereka berkaitan dengan seksualitas, kesehatan remaja dan masa depan mereka. Di Indonesia, menari adalah bagian dari budaya. Setiap daerah di Indonesia memiliki tarian yang unik dan indah. Tidak heran kalau remaja Indonesia langsung bersemangat jika diajak menari: Kali ini menari untuk mensyukuri dan menjaga kehidupan yang diberikan Tuhan – Dance For Our Life. Sudah 32.172 remaja yang ”menari” di provinsi-provinsi Sumatera Utara, Riau, Jambi, Lampung, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Papua. Yang lebih menggembirakan, sejumlah 4.823 orang remaja setuju untuk menjadi agent4change untuk menjangkau lebih banyak lagi remaja di lingkungannya.

Berikut ini beberapa komentar beberapa remaja:

Gilang (SMPN 10, Bandar Lampung):

“Belajar SETARA menurut saya sangat menyenangkan, saya jadi lebih tahu banyak hal tentang perkembangan tubuh saya yang selama ini tidak saya ketahui secara langsung. Selama ini saya banyak belajar dari internet dibandingkan dengan guru atau orang tua.

Aby Syahputra (remaja komunitas, Bandar Lampung):

“Saya merasa menjadi remaja yang berbeda lewat dance4life, mendapatkan informasi baru tentang HKSR dan sekarang saya sadar apa yang harus saya lakukan saat ini sebagai remaja yang sudah terpapar informasi. Menjadi pembuat perubahan dengan menyalurkan informasi pada remaja lainnya.”

Tony (Koordinator organisasi komunitas ragam seksualitas Jambi):

“Selama ini kami hanya memahami tentang HIV/AIDS saja, karena organisasi kami memang hanya bergerak untuk penjangkauan dan pendampingan bagi korban HIV/AIDS, namun setelah kami berjejaring dan mengikuti kegiatan penguatan seperti ini, kami menjadi faham bahwa ketika kita bicara tentang HIV/AIDS ternyata tidak terlepas dari seksualitas dan gender.”